Lele Jawa Timur Ancam Pembudidaya Lokal

SALAM, suaramerdeka.com – Kepala Dinas Peterikan Ir Tri Agung Sucahyono meminta para pembudidaya ikan tak hanya mengembangkan budidaya ikan saja namun juga harus menguasai jaringan pemasaran.
Hal ini dinilai penting guna menghindari permainan pedagang dari daerah lain. Disebutkan bahwa ada banyak pedagang yang membawa lele dari wilayah Tulungagung dan Kediri Jawa Timur ke Magelang. Mereka menawarkan harga lele yang lebih murah namun dengan kualitas kurang baik.
“Sangat penting membangun jejaring pemasaran agar tidak diakali pedagang luar daerah,” kata Agung seusai panen raya lele dumbo bersama Pokdakan Mina Chasanah Dusun Karang Talun, Desa Gulon, Kecamatan Salam, kemarin.
Menurut Agung, lele ‘impor’ tersebut dijual dengan harga 40 persen lebih rendah dari lele di Kabupaten Magelang. Meski harganya lebih murah namun belum tentu akan bisa memberikan keuntungan bagi pembudidaya dan pedagang lokal.
Pasalnya, kualitas lele kurang bagus dan harus menempuh perjalanan yang jauh sehingga lele stres dan tingkat kematian tinggi. “Tingkat kematian lele luar daerah biasanya 50 persen. Ini beda dengan lele lokal yang kematiannya hanya sekitar 5 persen,” jelas dia.
Untuk itu, Agung meminta para pembudidaya lele di Kabupaten Magelang agar tidak tergiur dengan harga murah. Akan lebih baik jika mereka memilih lele dengan kualitas terbaik sehingga menghasilkan panen yang besar.
Dijelaskan bahwa kini di Magelang sudah dikembangkan budidaya lele berkualias. Lele-lele tersebut merupakan hasil pemilihan bibit terbaik dan kemudian dilakukan kawin silang. Bibit lele pilihan tersebut memiliki kualitas bagus dan tingkat kematian yang rendah.
Agung menjelaskan wilayah Kabupaten Magelang juga diuntungkan dengan kondisi lingkungan yang bersih dari limbah, air jernih sepanjang tahun dan udara yang sejuk. Hal ini dinilai akan menguntungkan pembudidaya menghasilkan lele berkualitas.
Ketua Pokdakan Mina Chasanah Muhamad Ridwan menjelaskan pihaknya menebar sekitar 2 ribu ekor ikan untuk setiap kolam ikan. Dalam waktu pemeliharaan 50 hari, setiap kolam menghabiskan 5 sak sentrat ikan.
“Untung bersih kami sekitar Rp 600 ribu per kolam. Kami ada puluhan kolam sehingga hasilnya cukup besar. Usaha ini kami mulai tahun 2010 lalu,” kata Ridwan ditemani belasan pembudidaya ikan lainnya.
Menurut Ridwan, lele asal Magelang memiliki kualitas yang lebih baik dari lele luar daerah. “Lele kami lebih cepat besar dan dagingnya kenyal. Kalau dari Jawa Timur biasanya banyak kematian dan jika digoreng benyek dan remuk,” kata dia.
Ridwan mengatakan sebagian pedagang dari Tulungagung mengambil bibit lele dari Kabupaten Magelang. Setelah besar dan siap dikonsumsi, lele tersebut dikirim kembali ke Magelang. Mereka bisa menjual lele dengan harga murah karena tersedia pakan murah dan skala budidaya yang sangat besar.
( MH Habib Shaleh / CN19 / JBSM )

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/01/31/143714/Lele-Jawa-Timur-Ancam-Pembudidaya-Lokal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s