Jadi Pengusaha Setelah di PHK, Anasril, Pengusaha Lele Asap dari Bonjol Pasaman

Jadi Pengusaha Setelah di PHK

Anasril, Pengusaha Lele Asap dari Bonjol Pasaman

Padang Ekspres • Minggu, 17/06/2012 09:46 WIB • ERI MARDINAL — Pasaman • 173 klik

Anasril berdiri di depan oven pengasapan ikan salai miliknya

Memiliki keterbatasan fisik bukan untuk diratapi. Dengan semangat dan kerja keras, orangcacat pun bisa meraih sukses, bahkan melampaui pencapaian orang dengan fisik yang normal. Anasril,34, warga Nagari Bonjol, Kabupaten Pasaman yang mengalami cacat pada kaki bagian kanan sudah membuktikannya. Dia sukses jadi pengusaha lele asap. Bagaimana kisahnya?

Di tengah masyarakat, ma­sih banyak kita temukan orang yang meratapi kondisi fisiknya yang terbatas. Mereka menjadi pengemis di persimpangan ja­lan. Berharap belas kasih dari setiap orang yang lewat. Kondisi ini terus berlangsung tanpa mereka berpikir untuk me­nga­gas usaha untuk bisa hidup mandiri.

Beda dengan Anasril. Dia tak mau tergantung dengan orang lain, apalagi sampai meminta-minta. Baginya, setiap orang punya kemampuan untuk be­rusaha meski fisiknya cacat. Dia merintis berbagai usaha hingga akhirnya sukses menjadi pe­ngusaha lele asap.

Anasril mengalami cacat pada bagian kaki kanannya. Kakinya itu terpaksa diamputasi karena kecelakaan tambang di Bonjol. Saat itu dia pulang kam­pung selepas mengalami pe­mutusan hubungan kerja (PHK) dari Perusahaan Minas Pagai.

Anasri sempat putus asa. Dia bingung bagaimana harus me­nyambung hidup dengan kon­disi fisiknya yang terbatas. Men­jadi penambang tentu butuh fisik yang kuat. Akhirnya dia memutuskan berhenti jadi pe­nambang dan mencoba bisnis bunga. Profesi itu dia lakoni hingga tahun 2002. Dia jualan tidak hanya di Pasaman tapi sampai ke sejumlah pasar di kabupaten lain seperti Pasar Lubukalung dan Pauh Kamba di Padangpariaman.

Bisnis bunga tak begitu meng­gembirakan, sementara kebutuhan hidup terus me­ning­kat. Anasril kemudian diajak kawannya Khadafi untuk me­nge­lola usaha ikan salai di dae­rah Kumpulan pada tahun 2007. Dia menjadi karyawan di sana tetapi hanya bertahan satu ta­hun. Tahun 2008 dia me­mu­tuskan berhenti dan mencoba membuka usaha sendiri di dae­rah Pasar Ganggo Hilir, Nagari Ganggo Hilir, Kecamatan Bon­jol, Pasaman.

Usaha itu dia buka dengan modal Rp15 juta, yang sebagian dipinjam dari teman dan diberi nama POKLAHSAR.

Usaha barunya ini pada awalnya tidak berjalan sesuai harapan. Tahap awal dia merugi sampai Rp5 juta. Penyebabnya saat itu, ikan lele yang menjadi bahan baku ikan salai yang dibelinya dari sejumlah pe­dagang di Sumbar tidak bisa diolah, karena ukurannya terlalu kecil serta ada juga yang mati.

Tak mau larut dalam ke­rugian, Anasril memutar otak­nya. Untuk mengantisipasi keja­dian serupa terulang kembali, dia kemudian membuat kolam ikan berukuran 5X6 meter un­tuk kolam pembesaran ikan lele yang tempatnya dibuat ber­de­katan dengan tempat pe­nga­sa­pan ikan salai. Kolam ini dibuat untuk mengantisipasi keku­rangan bahan baku pembuatan ikan salai.

Ikan lele yang berukuran kecil yang dibeli dari sejumlah pe­dagang itu selanjutnya dibe­sar­kan di kolam sebelum diolah menjadi ikan salai. Untuk dija­dikan ikan salai, ikan lele harus berumur dua bulan. Jika ikan lele terlalu besar, tidak bagus untuk diolah menjadi ikan salai.

Anasril menceritakan proses pembuatannya pun sangat gam­pang. Ikan lele segar diolah dalam sebuah oven besar untuk pengasapannya. Untuk men­dapatkan satu kilogram ikan salai kering diolah dari empat kilogram ikan lele segar atau basah.

Cara pengolahannya, ikan lele segar terlebih dahulu dibelah dan dibersihkan. Setelah dibe­r­sihkan selanjutnya diberi aneka bumbu olahan. Kemudian ikan lele yang telah diberi bumbu di asap dalam sebuah oven besar.

Pengasapan ikan salai ini membutuhkan waktu yang cu­kup lama, yakni dari pukul 09.00 WIB-17.00 WIB meru­pakan proses pembentukan ikan salai. Kemudian dari pukul 17.00 WIB-21.00 WIB baru masuk proses pengasapan.

”Satu oven, bisa meng­ha­sil­kan 70 Kg ikan salai dengan dua trip pengasapan. Saat ini, saya baru memiliki tiga oven untuk pengolahan ikan salai. Dimana dua dibeli dari modal sendiri dan satunya lagi bantuan dari Dinas Perikanan Pasaman,” paparnya.

Seiring berjalannya waktu, usaha ini mulai menampakkan hasil. Jika diawal produksi, hanya mampu menghasilkan 400 kilogram setiap minggu, kini usahanya mampu ber­pro­duksi satu ton per minggunya. Berbicara mengenai keun­tu­ngan, dari hasil penjualan ikan salai itu, dia mendapat penda­patan sebesar Rp1 juta per minggunya. Keuntungan inilah yang diputar kembali untuk memperbesar usahanya itu.

”Alhamdulillah, usaha ini be­rangsur-angsur berhasil. Ken­dala dan hambatan yang dialami bisa diatasi dengan cepat, “ sebut Anasril, saat ditemui koran ini di lokasi pengasapan ikan salai di Ganggo Hilir, Kecamatan Bon­jol.

Hambatan dan kendala bah­kan harus menanggung rugi, tidak mematahkan semangat Anasril untuk terus berusaha memperbaiki usahanya agar bisa meraih keuntungan. Kini, usaha ikan salai produksinya telah merambah hampir seluruh wilayah Sumbar dan juga di luar Sumbar seperti Pekanbaru dan Jambi.

Dengan usahanya itu pula, Anasril telah mampu me­mo­ti­vasi masyarakat untuk mem­buka usaha budidaya lele. Ka­rena, mereka yakin a pasar untuk ikan lele masih terbuka lebar di berbagai daerah dan luar pro­pinsi, sedangkan suplainya ma­sih kecil.

Berkat kesuksesannya itu juga, Anasril selalu dia­ma­nah­kan untuk mengikuti seminar, festival, pameran, expo tentang pengolahan produk makanan ikan salai baik yang diadakan oleh Provinsi Sumbar maupun oleh pemerintah pusat.

Tahun 2010 dia terpilih mewakili Sumbar untuk me­ngi­k­uti Festival Lele Nusantara yang diadakan di Senayan City Jakarta bersama Ibu Negara, Ani Yudhoyono dan Menteri Ke­lautan dan Perikanan RI Fadel Muhammad pada tahun 2010.

Bahkan dia juga didaulat sebagai pemateri oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Pa­saman untuk memberikan ilmu kepada masyarakat terkait tata cara pengolahan ikan salai.

Tak hanya itu, tempat pe­ngolahan ikan salai miliknya juga menjadi tujuan belajar bagi daerah lain, seperti Jambi yang ingin belajar dan menimba ilmu tentang pengasapan ikan salai. ”Dengan senang hati, saya me­nerangkan bagaimana caranya memproduksi ikan salai yang enak, gurih dan renyah,” pa­parnya.

Terakhir dia berpesan ke­pada masyarakat, khususnya yang mempunyai keterbatasan fisik, jangan jadikan kekurangan itu sebagai keluhan dan alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Teruslah berusaha, berkarya dan berprestasi. ”Dan yakinlah, jika kita bersungguh-sungguh maka suatu saat kita akan meraih kesuksesan,” pesannya. (***)

[ Red/Administrator ]

http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=30238

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s