Sebelum Bencana Terjadi, Usir “Parsili” dari Danau Toba

Sumut – Jumat, 08 Jun 2012 01:00 WIB
(Analisa/timbul p. siallagan). Masyarakat dan pengunjung asik menikmati air Danau Toba di tengah suasana matahari terbenam (sunset). Akankah kelak air Danau Toba tidak bisa dinikmati lagi ?.
Oleh : Timbul P. Siallagan.
SEBAGAI daerah tujuan wisata (DTW) Danau Toba memiliki keindahan alam panorama yang tidak ditemukan di daerah lain, hingga keindahan alam panorama yang menakjubkan itu sering diibaratkan wisatawan dalam dan luar negeri seperti “putri kayangan yang turun dari surga”.

Fakta, kemolekan alam panorama Danau Toba, mampu menjadi “maknet” menggaet wisatawan dalam dan luar negeri datang mengunjunginya. Pada saatnya, Danau Toba, dijuluki sebagai DTW nomor tiga di Indonesia setelah Bali dan Yogyakarta.

Setiap saatnya, kota turis Parapat juga dijuluki sebagai DTW andalan nomor satu Sumut dan Pulau Samosir yang terletak di tengah-tengah Danau Toba, ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri. Bahkan, Desa Tuk Tuk Siadong terletak di Pulau Samosir yang ramai wisatawan luar negeri diabadikan sebagai “kampung bule”.

Kehidupan perekonomian masyarakat sekitarpun benar- benar bergairah, sebab setiap saatnya “dolar” wisatawan menjadi milik masyarakat. Tahun berganti, bangunan hotel dan sejenisnya, sarana transportasi danau dan yang lainnya semakin meramaikan khasanah di Danau Toba. Danau Toba-pun benar benar “wellcome” terhadap wisatawan.

Namun, masa keemasan Danau Toba terusik sejak lima belas tahun terakhir ini. Sebelumnya, keindahan alam panorama Danau Toba yang tadinya dijuluki sebagai putri kayangan yang turun dari surga, kini julukannya berobah menjadi ‘gadis cantik yang tidak terurus atau terlantar’ (jorok, kumuh dan sejenisnya).

Wisatawan dalam dan luar negeri yang setiap saat datang berbondong-bondong, bisa dihitung dengan jari. Sektor keperiwisataan bak mati suri. Masyarakat, khususnya pelaku pariwisata ramai-ramai putar haluan, ada yang beralih ke bisnis lain dan ada juga yang menjadi petani.

Budidaya Ikan

Menyusul sektor kepariwisataan tidak bisa lagi diharapkan sebagai penopang perekonomian, bahkan menutupi kebutuhan sehari-hari. Budidaya ikan menjadi sasaran empuk menggantikan peran sektor kepariwisataan.

Hanya hitungan bulan, berbagai daerah di sekitar Danau Toba sudah mulai dihiasi bisnis perikanan. Jaring apung (gilnet) marak, hingga menimbulkan kesan kumuh karena di atas jaring apung didirikan gubuk-gubuk.

Tidak berapa lama, budidaya ikan nila skala besar milik PT Aquafarm Nusantara, muncul di Danau Toba. Awalnya di Kampung Panahatan Desa Sibaganding Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Parapat, Kampung Bontean dan daerah obyek wisata Tomok Pulau Samosir serta yang lainnya. Seiring dengan itu juga, masyarakat yang tadinya masih bisa dihitung dengan jari sebagai pengusaha jaring apung, sebentar saja menggeliat.

Tercemar

Ahli lingkungan hidup dari manapun dihadirkan guna memeriksa kondisi air Danau Toba, pasca maraknya budidaya ikan pasti membenarkan pencemaran.

Pencemaran air Danau Toba itu, juga dilegalisasi saat Konferensi Nasional Danau Indonesia (KNDI) di Pulau Bali tahun 2009. Dalam KNDI itu mengemuka tujuh kesepakatan pengelolaan danau secara berkelanjutan, yakni pengelolaan ekosistem danau, pemanfaatan sumber air danau, pengembangan sistem monitoring, evaluasi dan informasi danau, penyiapan langkah adaptasi dan mitigasi, peningkatan partisipasi masyarakat dan pendanaan berkelanjutan.

Kesepakatan KNDI secara implisit menyatakan, penggunaan danau diutamakan untuk tujuan wisata, sementara untuk kegiatan ekonomi seperti kerambah jaring apung dan industri peternakan lainnya dihindari.

Tidak hanya itu, kondisi air Danau Toba yang sekarang semakin mengkhawatirkan secara nyata diakui Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Ekosistem Perairan Darat Departemen Kementerian Lingkungan Hidup, Harmono Sigit.

Pengakuan itu disampaikan pada satu acara yang digelar Badan Lingkungan Hidup Sumut dan Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba di Medan, belum lama ini.

Berdasarkan cacatan, mencapai 300 ton per hari makanan ikan atau biasa disebut pelet ditumpahkan ke Danau Toba. Baik itu pakan budidaya ikan milik masyarakat maupun pakan budidaya ikan milik Aquafarm Nusantara.

Melihat kenyataan ini, jelas tidak berapa lama lagi kondisi Danau Toba, seiring juga dengan pencemaran lain seperti limbah perumahan, perhotelan, perladangan termasuk perkapalan dan yang lainnya, akan menimbulkan pencemaran yang cukup parah dan pada gilirannya Danau Toba yang mampu menghidupi jutaan manusia itu akan menjadi tinggal kenangan.

Kini, ahli ahli lingkungan hidup, Bapedalda dan yang lainnya sudah saatnya segera angkat bicara bagaimana menyelamatkan Danau Toba, dari ancaman pencemaran yang sudah di depan mata.

Menyelamatkan Danau Toba, sekarang ini tidak bisa hanya karena kepentingan seribuan orang masyarakat dan bantuan sosial, namun lebih jauh dari itu Danau Toba yang terletak di wilayah pemerintahan Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Pulau Samosir, Simalungun, Humbang Hasundutan, Karo dan Dairi, mampu menghidupi jutawan masyarakat. Bahkan, Danau Toba, harus dilihat dari milik masyarakat dunia.

Selamatkan Danau Toba dari ancaman bencana besar yang sudah di depan mata. Usir “parsili” dari Danau Toba.

http://www.analisadaily.com/news/read/2012/06/08/55158/sebelum_bencana_terjadi_usir_parsili_dari_danau_toba/#.T9qRSJhWSgY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s