Budidaya Lele Warga Korban Merapi Butuh Pendampingan

06 Agustus 2011 | 08:07 wib

Budidaya Lele Warga Korban Merapi Butuh Pendampingan

Yogyakarta, CyberNews. Pengadaan 137 kolam ikan lele di hunian sementara (Huntara) Kuwang, Cangringan, Sleman, ditujukan membantu pemulihan sosial dan ekonomi warga korban erupsi Merapi. Namun setelah lima bulan program itu berjalan, belum menunjukkan hasil yang mengembirakan. Pasalnya, ditemukan banyak ikan lele yang mati sebelum waktu panen.

Menurut hasil pengamatan mahasiswa KKN PPM UGM, Christoper Joutua, tiap hari ditemukan lebih dari 50 kilogram lele yang mati. Meski di beberapa kolam ditemukan berbagai permasalahan. Namun secara umum ditemui beberapa masalah yang hampir mirip, di antaranya kualitas bibit yang buruk, terkena penyakit.

Berdasarkan hasil penelitian tim program pemulihan sosial ekonomi mahasiswa KKN PPM UGM, diketahui banyak ikan lele yang terinfeksi penyakit.

“Dalam panen pertama, sedikit sekali lele yang bisa dipanen. Menurut beberapa warga, banyaknya lele yang mati, bahkan sejak dibagikan sudah banyak bibit lele yang mati,” kata Joutua di temui di Huntara Kuwang.

Selain menghadapi masalah lele yang mati, warga juga menghadapi kesulitan harga pakan yang terlalu tinggi, pembelian bibit yang tidak mencukupi akibat keterbatasan dana, belum adanya penyuluhan secara intensif, dan tim pendamping yang belum ahli.

Wafirudin (52), ketua kelompok pengelola 21 kolam lele milik warga Bakalan yang tinggal di Huntara Kuwang mengakui bahwa ditemukan banyaknya ikan yang mati. “Sudah gunakan macam macam obat, tapi belum berhasil,” kata bapak tiga anak itu.

Dia menambahkan, dari hasil panen 30 kolam hanya mendapatklan hasil uang penjualan sebesar Rp 14 juta. Artinya, dalam satu kolam, rata-rata hanya bisa panen di bawah satu kwintal. Di mana harga jual lele Rp 10 ribu per kilogram.

Ketua Kormanit KKN unit 81 PPM UGM, Ardiansyah Jombat menuturkan, kasus gagal panen ikan lele itu berdampak pada menurunnya semangat warga yang sebelumnya sangat antusias memulai usaha budidaya kolam lele.

“Minimnya penyuluhan dan hasil panen yang tidak maksimal dikhawatirkan berdampak tidak ada usaha kuat dan kemauan keras warga dalam melanjutkan program ini,” ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya sudah melaporkan kondisi tersebut kepada Dinas Perikanan propinsi DIY dan dijanjikan akan ditindaklanjuti. Untuk memastikan kasus kematian ikan lele tersebut, pihaknya mendatangkan peneliti dari UGM.

Dihubungi secara terpisah, pakar patologi penyakit hewan UGM Prof drh R Wasito MSc PhD mengatakan, dirinya belum bisa memastikan penyebab kematian ikan lele di Huntara Kuwang sebelum ada data analisa laboratorik.

“Kita perlu anamnesa, termasuk umur ikan lele yeng terkena dan gambaran lesi patologisnya lengkap sehingga bisa dapat ditentukan kemungkinannya,” tambahnya.

( Bambang Unjianto / CN33 / JBSM )

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/08/06/92891/Budidaya-Lele-Warga-Korban-Merapi-Butuh-Pendampingan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s