Pencurian Ikan Lele Marak, Peternak Kampung Lele Rugi

Pencurian Ikan Lele Marak, Peternak Kampung Lele Rugi

BOYOLALI – Sejumlah peternak lele di Kampung Lele Desa Tegalrejo, Kecamatan Sawit, Boyolali, mengeluhkan maraknya pencurian ikan lele milik mereka yang terjadi dalam kurun waktu beberapa pekan terakhir ini. Akibatnya, peternak lele mengalami kerugian jutaan rupiah.

Salah seorang peternak lele di Kampung Lele, Prihatiningsih, 51, mengaku pernah kehilangan ikan lele yang siap dijual dari kolam miliknya sekitar sebulan terakhir.

”Padahal itu [ikan lele] pesanan orang. Saya beli dari Jogja, kemudian saya masukkan ke kolam supaya tetap segar. Besok pagi saat akan saya ambil, kolam malah sudah kosong,” ungkap Prihatiningsih ketika ditemui wartawan di sela-sela aktivitasnya, Senin (4/2/2013).

Prihartiningsih menuturkan ikan-ikan lele yang hilang tersebut berada di dalam kolam paling ujung. Diakuinya, kolam tersebut jauh dari pengawasannya.

”Saya masukkan ikan-ikan itu di kolam paling ujung, jadi memang agak susah ngawasinnya,” ungkap dia.

Akibat hilangnya ikan-ikan lele tersebut, Prihartiningsih mengaku mengalami kerugian hingga jutaan rupiah. Dia menduga, pencuri itu tidak berkerja sendirian. Sebab di sekitar kolam, tidak terlihat ada jejak yang ditinggalkan.

”Baru sekali ini [kecurian]. Tapi karena itu, saya rugi jutaan rupiah,” tuturnya.
Kejadian yang sama juga pernah dialami sejumlah peternak lainnya. Peternak lele lainnya, Halim, 67, juga mengakui hal itu. Agar tidak terjadi pencurian ikan di kolam, Halim mengatakan saat ini dirinya rutin memantau di sekitar kolam, khususnya malam hari.

Beberapa peternak lain, lanjut dia, juga melakukan langkah yang sama. Mereka pun bekerja sama untuk menjaga kolam-kolam yang ada di kawasan itu.

”Kami bekerja sama dengan pemilik kolam lainnya untuk melakukan patroli di kolam-kolam,” kata Halim.

http://www.solopos.com/2013/02/04/pencurian-ikan-lele-marak-peternak-kampung-lele-rugi-375446

Lele Jawa Timur Ancam Pembudidaya Lokal

SALAM, suaramerdeka.com – Kepala Dinas Peterikan Ir Tri Agung Sucahyono meminta para pembudidaya ikan tak hanya mengembangkan budidaya ikan saja namun juga harus menguasai jaringan pemasaran.
Hal ini dinilai penting guna menghindari permainan pedagang dari daerah lain. Disebutkan bahwa ada banyak pedagang yang membawa lele dari wilayah Tulungagung dan Kediri Jawa Timur ke Magelang. Mereka menawarkan harga lele yang lebih murah namun dengan kualitas kurang baik.
“Sangat penting membangun jejaring pemasaran agar tidak diakali pedagang luar daerah,” kata Agung seusai panen raya lele dumbo bersama Pokdakan Mina Chasanah Dusun Karang Talun, Desa Gulon, Kecamatan Salam, kemarin.
Menurut Agung, lele ‘impor’ tersebut dijual dengan harga 40 persen lebih rendah dari lele di Kabupaten Magelang. Meski harganya lebih murah namun belum tentu akan bisa memberikan keuntungan bagi pembudidaya dan pedagang lokal.
Pasalnya, kualitas lele kurang bagus dan harus menempuh perjalanan yang jauh sehingga lele stres dan tingkat kematian tinggi. “Tingkat kematian lele luar daerah biasanya 50 persen. Ini beda dengan lele lokal yang kematiannya hanya sekitar 5 persen,” jelas dia.
Untuk itu, Agung meminta para pembudidaya lele di Kabupaten Magelang agar tidak tergiur dengan harga murah. Akan lebih baik jika mereka memilih lele dengan kualitas terbaik sehingga menghasilkan panen yang besar.
Dijelaskan bahwa kini di Magelang sudah dikembangkan budidaya lele berkualias. Lele-lele tersebut merupakan hasil pemilihan bibit terbaik dan kemudian dilakukan kawin silang. Bibit lele pilihan tersebut memiliki kualitas bagus dan tingkat kematian yang rendah.
Agung menjelaskan wilayah Kabupaten Magelang juga diuntungkan dengan kondisi lingkungan yang bersih dari limbah, air jernih sepanjang tahun dan udara yang sejuk. Hal ini dinilai akan menguntungkan pembudidaya menghasilkan lele berkualitas.
Ketua Pokdakan Mina Chasanah Muhamad Ridwan menjelaskan pihaknya menebar sekitar 2 ribu ekor ikan untuk setiap kolam ikan. Dalam waktu pemeliharaan 50 hari, setiap kolam menghabiskan 5 sak sentrat ikan.
“Untung bersih kami sekitar Rp 600 ribu per kolam. Kami ada puluhan kolam sehingga hasilnya cukup besar. Usaha ini kami mulai tahun 2010 lalu,” kata Ridwan ditemani belasan pembudidaya ikan lainnya.
Menurut Ridwan, lele asal Magelang memiliki kualitas yang lebih baik dari lele luar daerah. “Lele kami lebih cepat besar dan dagingnya kenyal. Kalau dari Jawa Timur biasanya banyak kematian dan jika digoreng benyek dan remuk,” kata dia.
Ridwan mengatakan sebagian pedagang dari Tulungagung mengambil bibit lele dari Kabupaten Magelang. Setelah besar dan siap dikonsumsi, lele tersebut dikirim kembali ke Magelang. Mereka bisa menjual lele dengan harga murah karena tersedia pakan murah dan skala budidaya yang sangat besar.
( MH Habib Shaleh / CN19 / JBSM )

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news_kedu/2013/01/31/143714/Lele-Jawa-Timur-Ancam-Pembudidaya-Lokal

KELURAHAN KALIANCAR: Pembibitan Lele Kembali Dikembangkan

KELURAHAN KALIANCAR: Pembibitan Lele Kembali Dikembangkan

Kecamatan Selogiri, Wonogiri kini tengah menggencarkan pembibitan ikan lele. Camat Selogiri Bambang Haryanto berencana menjadikan wilayahnya sentra pembibitan ikan air tawar terutama ikan lele. Pengembangan itu berada di sejumlah lokasi, salah satunya di wilayah Kelurahan Kaliancar.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu, pembibitan lele tersebut sudah ada tetapi akhirnya kolaps. Sebab, permasalahan harga pakan ikan, perubahan musim, minimnya sarana dan prasarana dihadapi sendiri. Tapi, setahun terakhir, pembibitan ikan lele tersebut mulai dikembangkan kembali secara kelompok.

Di kelurahan yang memiliki 1.806 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sebanyak 6.895 jiwa tersebut, ada sekitar 60 warga yang melakukan pembibitan ikan lele dengan sistem kelompok. Kelompok tersebut tersebar di tiga lingkungan yakni Kaliancar, Gunung Wijil dan Gunung Gadung.

Warga tertarik melakukan pembibitan ikan lele karena pekerjaan mereka sebagai petani di sawah tadah hujan hanya bisa panen dua kali musim tanam. Lahan yang mereka garap juga bukan milik sendiri alias milik pemerintah. Di wilayah Kelurahan Kaliancar, pembibitan ikan lele bermula dari seorang warga bernama Kasmo yang hobi memelihara ikan air tawar. Ia lalu mencoba mengembangkan pembibitan ikan lele.

Saat itu, beberapa anggota karang taruna di wilayah tersebut kerap datang ke rumahnya dan tertarik dengan usaha sampingannya itu selain menjadi pegawai di kelurahan. Tapi, anggota karang taruna tersebut memerlukan modal untuk mewujudkan keinginan mereka. Akhirnya, Kasmo membentuk kelompok agar bisa mengajukan bantuan ke Pemkab maupun pihak ketiga.

Pada 2007, Pemkab mulai memberi bantuan berupa sarana dan prasarana, indukan dan pembinaan kelompok. Pendapatan yang mereka dapat bisa mencapai 200% dari modal apabila pembibitan berhasil.

“Dari modal awal sekitar Rp1 juta, pendapatan yang didapat bisa mencapai Rp3-4 juta jika pembibitan berhasil. Sebaliknya, kerugian juga bisa mencapai 200% apabila pembibitan gagal atau bibit ikan lele semuanya mati,” kata Kasmo saat ditemui Solopos.com di Kantor Kelurahan Kaliancar, akhir pekan kemarin.

Berharap Bantuan

Sayangnya, sementara ini mereka berhenti melakukan pembibitan karena kerap hujan deras yang membuat banyak bibit ikan lele mati. Mereka berharap ada bantuan berupa penutup kolam yang berupa plastik ultraviolet (UV) untuk menahan hujan tetapi bisa menyerap sinar matahari.

Selain itu, kendala lain yakni sulitnya pakan bibit ikan lele yang berupa cacing sutra. Cacing yang biasanya didapat di sungai-sungai itu hilang terbawa air hujan. Mereka pun harus mencari ke wilayah lain dengan harga yang mahal. Ada juga pakan pengganti yang dibuat pabrikan dengan harga Rp250.000/mangkok kecil, sedangkan harga cacing biasa yakni Rp12.000/liter.

Lurah Kaliancar, Sagimin, berharap ada bantuan agar usaha pembibitan tersebut tetap bertahan. “Potensi ini sayang jika dibiarkan saja. Apalagi, pak Camat berencana mengembangkan Kecamatan Selogiri untuk sentra pembibitan ikan air tawar. Kami ingin mendukung rencana itu karena bisa meningkatkan kehidupan ekonomi warga.”

http://www.solopos.com/2013/01/21/kelurahan-kaliancar-pembibitan-lele-kembali-dikembangkan-370766

Musim Hujan Tak Menurunkan Kualitas Ikan Lele

Musim Hujan Tak Menurunkan Kualitas Ikan Lele

KUDUS, suaramerdeka.com – Hujan yang beberapa hari ini menguyur kota Kudus ternyata menjadi momok bagi petambak kolam terpal ikan air tawar, utamanya mereka yang saat ini mengembangkan ikan lele. Meskpiun demkian hal ini tidak sampai menurunkan kualitas dari lele dan nilai jual lele tersebut.
Sebab sebagian besar petambak telah mengantisipasinya dengan melakukan penggantian air secara berkala, seperti yang dilakukan oleh pengelola tampak kolam terpal dari UD Karang Tumaritis, di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati Kudus, Andhika Danny.
Ia mengaku setiap hari ketika musim hujan harus sering menggantia air untuk menekan angka kematian lele. “Zat asam pada air hujan yang masuk dan bercampur dalam kolam akan menghambat kelangsungan hidup lele,” katanya.
Di samping itu mudah terserang penyakit, sehingga itu perlu antisipasi sejak dini. Menurutnya, hal ini mutlak dilakukan oleh petambak ikan lele. Memang hal ini bukan suatu yang mudah, karena di samping mengganti air, pihaknya juga harus rajin mengecek kondisi air agar tetap normal tidak terkontaminasi apapun.
“Hal ini berbeda jika saat musim kemarau pengecekan secara seluruhnya dilakukan hanya sepekan sekali, namun saat ini harus dilakukan setiap saat,” tuturnya.
Mengenai pemilihan bibit ikan lele saat ini, pihaknya mengaku masih memakai bibit lokal jenis Sangkuriang dan Phyton. “Dua jenis komoditas lele sata ini masih menjadi andalan karena nilai jualnya cukup bagus. Per kilogram bisa mencapai rata – rata Rp 17.000 hingga Rp 18.000,” katanya.
Hal senada dikatakan oleh Denny Eko petambak lain yang juga berada di Desa Getas Pejaten, ia juga mengaku menggunakan jenis lele lokal tersebut untuk dikembangkan. “Lele jenis Sangkuriang dan Phyton cukup bandel dan tahan terhadap penyakit. Meski pun demikian tetap intensif dilakukan pemantauan agar berkembang biak dengan penyakit,” tandasnya.
( Ruli Aditio / CN26 / JBSM )

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2013/01/13/141422/Musim-Hujan-Tak-Menurunkan-Kualitas-Ikan-Lele

Harga Ikan Laut di Bojonegoro Meroket

Harga Ikan Laut di Bojonegoro Meroket

Metrotvnews.com, Bojonegoro: Harga ikan laut di pasar tradisional di Kabupaten Bojonegoro, Jatim, mengalami kenaikan antara Rp5 ribu-Rp20 ribu per kilogram dalam sebulan terakhir.

Ini menyusul tidak melautnya elayan sepanjang pesisir pantai utara (pantura) Tuban dan Lamongan dalam sebulan ini akibat cuaca buruk. Kondisi tersebut membuat pedagang ikan mengalami kesulitan pasokan.

Ismiyati,37, pedagang ikan laut di Pasar Besar Bojonegoro mengatakan, tidak melautnya ratusan ribu nelayan di pesisir pantura Tuban dan Lamongan
membuat pedagang ikan menalami kesulitan mendapatkan pasokkan.

“Itu berdampak harga ikan melambung antara Rp5-10 ribu per kilogram (kg) dalam sebulan terakhir,” terangnya, saat di temui Media Indonesia, Senin
(4/2).

Seperti harga Kepiting, misalnya, yang pada sebelumnya seharga Rp50 ribu kini naik menjadi Rp55 ribu per kg. Ikan tongkol, lanjut dia, yang
semula harganya pada kisaran Rp20 ribu-Rp25 ribu melambung menjadi Rp30 ribu, kakap merah yang semula Rp20 ribu-Rp30 ribu naik menjadi Rp35 ribu per kg.

Begitu pula, untuk ikan cumi-cumi yang semula seharga Rp30 ribu naik menjadi Rp35 ribu-Rp40 ribu per kg .

“Bahkan, ikan tengiri naik Rp20 ribu menjadi Rp80 ribu dari sebelumnya seharga Rp60 ribu per kg,” tambahnya.

Selain itu, harga ikan kerapu juga naik antara Rp10 ribu-Rp15 ribu per kg. Tidak melautnya nelayan pantura Tuban dan Lamongan dalam sebulan terakhir juga membuatnya mengalami keculitan pasokkan.

Kondisi tersebut memaksanya hanya bisa menjual ikan air tawar. Di antaranya, Lele, Bandeng, Mujair, dan Udang.

“Baru 2-3 hari ini pasokan ikan laut mulai ada. Tapi, jumlahnya juga belum banyak. Sebab, bartu sebagian nelayan yang turun melaut,” pungkasnya. (M Yakub/Adf)

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/02/05/6/128679/Harga-Ikan-Laut-di-Bojonegoro-Meroket

Dinkes Kalbar Juara Lomba Cipta Menu Ikan Lele

Dinkes Kalbar Juara Lomba Cipta Menu Ikan Lele

Pontianak – Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar meraih juara pertama pada lomba cipta menu bahan olahan ikan lele yang digelar oleh Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar pada HUT ke-56 Pemprov Kalbar di halaman kantor gubernur.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Kalbar Frederika Cornelis mengatakan lomba cipta menu bahan olahan ikan lele ini bertujuan mempromosikan menu-menu masakan lele. Kegiatan ini juga diharapkan akan menemukan ide-ide kreatif dari para peserta lomba untuk menciptakan menu-menu yang berbahankan ikan lele.

“Selain kaya zat gizi ikan lele juga membantu pertumbuhan janin dalam kandungan dan sangat baik bagi jantung karena rendah lemak. Ikan lele juga sangat mudah untuk didapatkan dan harganya juga sangat terjangkau,” katanya.

Protein ikan ini yang istimewa, dikatakan Frederika, bukan hanya berfungsi sebagai penambah jumlah protein yang dikonsumsi, tetapi juga sebagai pelengkap mutu protein dalam menu.

Seperti diketahui, sambung dia, protein ikan mengandung semua asam amino esensial yang dalam jumlahnya yang cukup. Protein ikan mengandung lisin dan metionin yang lebih tinggi dibanding protein susu dan daging.

“Kita berharap kegiatan menu masak ikan lele yang mudah dan gampang untuk didapatkan ini, akan terus ditingkatkan guna mendapatkan ide-ide kreatif dalam penyajiannya,” harap Frederika.

Selain untuk memberikan contoh bagi masyarakat agar lebih bisa memanfaatkan lahan pekarangan yang kosong untuk ditanami dengan sayur-sayuran yang dapat dikonsumsi, kegiatan Bazar Produksi kebun TP PKK yang diadakan pada HUT ke-56 Pemprov sekaligus untuk mempromosikan hasil-hasil kebun PKK yang dinilai sudah sangat berhasil. “Berbagai macam jenis sayuran-sayuran hasil kebun PKK telah banyak membuahkan hasil, bahkan sudah dipasarkan sampai ke pasaran,” ujar Frederika.

Ia mengatakan TP PKK Provinsi Kalbar terus berupaya meningkatkan hasil-hasil kebun semuanya dilakukan untuk memberikan contoh bagi masyarakat.

Juara kedua pada lomba masak ikan lele diperoleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan, disusul Dinas Peternakan pada peringkat III, harapan I BPMPD, harapan II Biro Humas Provinsi, dan harapan III Dinas Kelautan dan Perikanan. (kie)

http://www.equator-news.com/kalbar-raya/20130130/dinkes-kalbar-juara-lomba-cipta-menu-ikan-lele

Kota Binjai Pemasok Ikan Lele Terbesar di Sumut

Kota Binjai Pemasok Ikan Lele Terbesar di Sumut

Binjai, (Analisa). Walikota Binjai H M Idaham SH MSi didampingi Wakil walikota Timbas Tarigan,Sekdako,H Elyuzar SH M.Hum, Kadis Sosial dan Tenaga Kerja Nani Sundari dan Kadis Pertanian dan Perikanan Ir Edy Gunawan memanen ikan lele di kolam milik kelompok Mandiri Sejahtera di Jalan Gugus Depan Ujung Kelurahan Berngam Kecamatan Binjai Kota, Minggu (3/2).
Panen ikan Lele ini, merupakan hasil kerja dari kelompok Mandiri Sejahtera yang dibina oleh Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Binjai bekerjasama dengan dinas Pertanian dan Perikanan Kota Binjai dan panen menghasilkan ikan lele 2,5 ton, yang dipelihara selama 70 hari dengan berat 7 sampai 9 ekor ikan lele per kg dengan harga Rp.13 ribu per kgnya,kata Kadis pertanian.

Menurutnya, Kota Binjai memang sudah dikenal sebagai pemasok kebutuhan ikan lele terbesar di Sumatera Utara dengan produksi ikan lele mencapai 15 ton perhari.

Walikota meminta Dinas Pertanian dan Perikanan untuk terus meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikan lele sehingga menjadi sumber pendapatan masyarakat di daerah ini.

Idaham mengimbau dinas terkait untuk terus memantau serta membantu masyarakat yang ingin mengembangkan perikanan darat baik ikan lele maupun yang lainnya.

“Dinas atau SKPD lainnya bisa ikut membantu misalnya dibidang permodalan, pelatihan,pengolahan hasil produksi dan pemasaran, “kata Idaham.

Walikota juga memuji kerjasama antara Dinas Pertanian dan Perikanan dengan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk membina kelompok budidaya ikan lele ini.Sinerji 2 SKPD ini sangat bermanfaat, di mana satu aspek memberikan lapangan kerja, aspek lain meningkatkan pendapatan dan perekonomian masyarakat katanya.

(mg)

http://www.analisadaily.com/news/read/2013/02/04/105015/kota_binjai_pemasok_ikan_lele_terbesar_di_sumut/#.URERVqKsiSo

Imlek, umat Tridharma Solo lepas 888 burung dan lele

Imlek, umat Tridharma Solo lepas 888 burung dan lele

Menyambut Tahun Baru Imlek ke 2564 yang jatuh pada 10 Februari mendatang, ratusan umat Tridharma (Buddha, Tao dan Konghucu) melepas 888 burung pipit ke udara dan 888 ikan lele ke Bengawan Solo.

Ritual pelepasan hewan yang dilakukan di Kelenteng Tien Kok Sie, Solo, Jawa Tengah, tersebut merupakan rangkaian ritual Pao Oen atau permohonan ampun kepada Tuhan.

“Jumlah hewan yang dilepas sebenarnya sebanyak 2013, sesuai angka tahun ini. Namun dengan berbagai pertimbangan dipilih jumlah 888. Angka 888 disukai warga Tionghoa dan dipercaya membawa berkah untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Humas Klenteng Tien Kok Sie Aryanto Wong, kepada merdeka.com, Minggu (3/2).

Pantauan merdeka.com, nuansa Imlek 2564 semakin terasa di sekitar Klenteng, di kawasan pasar Gede. Ada 17 altar dan puluhan rupang (patung), puluhan lilin, lampion serta pernak-pernik Imlek.

Selain ritual Pao Oen, menurut Wong, ritual selanjutnya adalah sembahyang pada Dewa Zhiao Jun (Dewa Dapur), yang akan dilakukan 4 Februari. Dewa Dapur, lanjut Wong, dipercaya akan naik ke langit untuk menyerahkan rapor perbuatan baik dan buruk pada penguasa langit.

“9 Februari malam, kami akan lakukan Thiam Ting atau menyalakan lentera. Kemudian tepat pergantian hari, bedug dan lonceng ditabuh dan dipukul 36 kali agar pintu langit terbuka, sehingga doa kami diterima,” katanya.

Sebagai penutup rangkaian Tahun Baru Imlek, digelar Cap Go Meh pada 24 Februari.
Pada kesempatan tersebut pertunjukan seni liong dan barongsai akan digelar untuk melaksanakan ritual pembersihan energi negatif atau penolak bala. Dalam ritual tersebut warga bisa menyaksikan secara langsung, karena ritual akan digelar dengan cara berkeliling kota.

[ren]

http://www.merdeka.com/peristiwa/imlek-umat-tridharma-solo-lepas-888-burung-dan-lele.html

Uni Eropa Kembali Terima Produk Perikanan dari Indonesia

13 November 2012, 16:03:06| Laporan Agita Sukma Listyanti
Uni Eropa Kembali Terima Produk Perikanan dari Indonesia

suarasurabaya.net| Uni Eropa resmi mencabut larangan ekspor produk perikanan dari Insonesia. Pencabutan ini dikeluarkan 6 November 2012 lalu, setelah Uni Eropa memastikan bahwa produk perikanan Indonesia tidak mengandung residu antibiotik chloramphenicol, nitrofurans dan tetracyclines.

Sejak 2009, produk Indonesia harus menjalani pemeriksaan 20 % by shipment, yaitu 20 persen dari total volume yang diekspor akan diperiksa secara acak di pelabuhan penerima. Pada 2011, Nastional Recide Control Plan di Indonesia dinyatakan baik dan November 2012 ini pencabutan resmi dikeluarkan melalui Commision Decision No 2012/690/EU (CD 690/2012).

Kardani Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur mengaku mengalami kerugian atas larangan yang diberlakukan di Uni Eropa tersebut. Sebab, selama ini eksportir harus menanggung biaya pemeriksan yang mahal. Di Eropa ongkos uji lab bisa mencapai Rp 20-25 juta atau lima kali lipat dibandingkan di Indonesia.

Dengan mahalnya ongkos uji lab akan berdampak pula ke biaya operasional yang ditanggung. “Mulai dari mesin pendingin dan biaya antri di pelabuhan karena menunggu hasil pemeriksaan,” kata Kardani, Selasa (13/11/2012).

Dicabutnya larangan ekspor ke Uni Eropa dipastikan akan meningkatkan daya saing produk perikanan hasil budidaya Indonesia. Apalagi negara-negara Eropa masih menjadi pasar ekspor tradisional Indonesia, selain Amerika Serikat, Jepang dan China.

Jawa Timur sendiri berkontribusi 25 persen terhadap ekspor nasional. Pada 2011, volume ekspor hasil perikanan Jawa Timur sejumlah 272.172 ton senilai US$ 827.196.726. Targetnya 2012 ini bisa meningkat 10-15 persen mencapai US$ 900 juta.(git)
http://m.suarasurabaya.net/ekonomibisnis/detail.php?id=965a9f4dc9cef8733b76a2c1485f76172012111938

Arab Saudi Jajaki Investasi Perikanan

Arab Saudi Jajaki Investasi Perikanan
Penulis : Brigita Maria Lukita | Rabu, 26 Mei 2010 | 05:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -Saudi menjajaki kerjasama perikanan budidaya dengan Indonesia. Untuk tahap awal, negara timur tengah itu berencana menggenjot investasi sektor perikanan di Indonesia senilai 20 juta dollar AS.

Hal itu terungkap dalam pertemuan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad dengan Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Abdurrahman Al Khayart, dan rombongan bank perkreditan dan simpanan Arab Saudi, di Jakarta, Selasa (25/5). “Ada delapan investor asal Arab Saudi yang sedang menjajaki investasi di bidang budidaya perikanan Indonesia, dan investasi diarahkan di wilayah Jawa Barat dan Kepulauan Seribu, Jakarta,” kata Fadel. Di sisi lain, sejumlah pembudidaya akan dikirimkan ke Indonesia untuk mengikuti pelatihan teknis budidaya.

Investasi Arab Saudi akan diarahkan untuk budidaya ikan di darat maupun di laut, ujar Fadel, sesuai menerima kunjungan Arab Saudi. Keseriusan Arab Saudi untuk menggenjot sektor perikanan budidaya juga tercermin dari rencana impor produk keramba jarring apung (KJA) yang terbuat dari bahan berkepadatan tinggi (high density polyethelene atau HDPE). Produk buatan Indonesia itu dinilai ramah lingkungan, tidak beracun, dan tahan paparan sinar matahari. Produsen KJA itu adalah Xseabitor Indonesia dan PT Batam Usaha Multikultur.

Saudi Credit Bank & Agriculture Development Bank telah menyatakan kesediaan untuk memberikan fasilitas pinjaman kepada pengusaha asal Timur Tengah itu untuk berinvestasi di sektor perikanan di Indonesia.

Belum Tergarap

Fadel mengakui, Indonesia selama ini belum optimal menggarap potensi ekspor perikanan ke Arab Saudi. Nilai impor perikanan oleh Arab Saudi rata-rata 1 miliar dollar AS per tahun, sejumlah 30 persen di antaranya dipasok oleh Thailand dan Vietnam. Sedangkan, kontribusi ekspor Indonesia ke Arab Saudi di bawah 0,5 persen.

Tahun 2009, ekspor produk perikanan ke Aran Saudi adalah 12.173 ton atau senilai 48,37 dollar AS. Komoditas perikanan itu meliputi tuna, mutiara, dan rumput laut. Selain itu, ikan beku seperti nila, kakap putih, kakap merah, dan fill et patin. Sedangkan, impor produk perikanan dari Arab Saudi sebesar 6 ton senilai 90.000 dollar AS. Komoditas yang diimpor berupa ikan segar.(LKT)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2010/05/26/05562396/Arab.Saudi.Jajaki.Investasi.Perikanan